/ default

Opini
Dr. Rusdin T., Universitas Pajajaran


Keunggulan Bersaing melalui upaya pemberdayaan modal manusia
| 39 views

| |

Pemimpin mana pun yang tertarik menyusun rencana global, sejatinya menyesuaikan budaya perusahaan global dengan rencana tersebut, dan mengerahkan karyawan untuk mengembangkan pola pikir dan keterampilan yang dibutuhkan untuk kesuksesan pribadi dan organisasi akan merasa perlunya pemberdayaan sumber daya yang ada, tak terkecuali sumber daya manusia.

Globalisasi sudah terjadi di dunia, tetapi belum terjadi di kebanyakan organisasi dunia. Namun tidak begitu diragukan bahwa untuk dapat hidup terus di abad yang akan datang, semua organisasi, baik domestik, internasional, multinasional, global maupun transnasional, perlu menjadi lebih global dalam pandangan mereka, jika belum dalam operasi mereka. Agak ironis bahwa kebijakan konvensional mengenai ketidaksanggupan perusahaan untuk bersaing secara efektif di pasar global biasanya difokuskan kepada pengeluaran yang tidak memadai dalam teknologi, pabrik, dan peralatan. Terdapat bukti yang semakin besar bahwa kelemahan yang sebenarnya mungkin terletak pada kurangnya "pola pikir global" pada para manajer kunci, pola pikir yang memungkinkan mereka memimpikan kemungkinan pasar global dan kemudian menjalankan strategi global secara efektif.

Hidup dalam transformasi yang akan mengatur kembali politik, hukum dan ekonomi saat ini. Tidak akan ada lagi produk atau teknologi nasional, tidak ada lagi perusahaan nasional, tidak ada lagi industri nasional. Tidak akan ada lagi perekonomian nasional, yang tetap berakar di batas-batas negara adalah rakyat yang merupakan suatu bangsa. Perusahaan dan industri tidak akan ada lagi dalam bentuk apa pun yang secara berarti dapat dibedakan dari ekonomi global lainnya.

Sebesar 32 persen dari kandungan pesawat terbang McDonnel Douglas berasal dari luar negeri dan chairman MDM John McDonnel memperkirakan kenaikan yang besar di tahun-tahun yang akan datang.

"Label integrated circuit bertuliskan: 'Diproduksi di satu atau lebih negara berikut ini: Korea, Hongkong, Malaysia, Singapura, Taiwan, Mauritius, Thailand, Indonesia, Meksiko, Filipina." Negara asal yang pasti tidak dikenal . . . MD-ll mempunyai tangki minyak pada sayap yang dibuat di Spanyol; sayap kecil dibuat di Italia; ekor di Jepang, dan bagian-bagian dari badan pesawat di Korea.

Dengan realitas globalisasi manufakturing yang demikian, bahwa komitmen suatu negara terhadap pengembangan rakyatnya merupakan cara utama untuk menjamin daya saing global.

Jika hal ini terjadi atas dasar nasional hal ini sudah tentu terjadi di tingkat organisasi, maka perlu didesaign, direncakan, dan dan dicari formula atau mettode  untuk membantu karyawan menjadi manajer global yang mampu dan percaya diri.

Jika seseorang ingin menjadi juru masak 25 atau 50 tahun dari sekarang, maka ia harus menjadi seorang yang terlatih, terdidik, dan terampil (lengkap). Pendidikan dan pengalamannya akan menjadikannya seorang wirausaha yang mendekati sempurna di dunia yang sudah berubah menjadi satu pasar yang besar (Global).

Sebaiknya ia berbicara dalam multi bahasa (Jepang, Jerman atau lainnya) dan memahami sejarah ... dan ia sebaiknya mengetahui persoalan ekonomi yang sulit itu sesuai dengan bidang yang ditekuni itu.

Ed Dunn, vice prasident Whirlpool, salah satu perusahaan global yang paling agresif, mengemukakan hal tersebut begini:

"Dunia akan menjadi sangat berbeda, dunia akan membutuhkan CEO yang sangat berbeda (dengan pengalaman multi lingkungan, multi negara, multi fungsi, bahkan mungkin multi perusahaan dan multi industri."

Manajer mengusahakan produktivitas, pertumbuhan, dan keunggulan bersaing di era global ini. Saya percaya, bahwa resep yang cocok adalah "kekuatan manusia" dalam perusahaan di mana budaya perusahaan dibimbing oleh "kecepatan, kesederhanaan, dan percaya diri.

Manusia menjadi ujung tombak kemenangan dalam menentukan daya saing perusahaan.

Ketika realitas perubahan dalam sejarah ekonomi dan politik menjadi tidak dapat disangkal, maka dapat dilihat reaksinya dalam bisnis dunia di sekelilingnya. sebut saja AT&T telah memperkenalkan saluran bahasa yang memberikan pelayanan interpretasi cepat 24 jam dengan telepon dalam 143 bahasa dan dialek. Seseorang harus "menjadi global" karena interpreter jelas merupakan kebutuhan bisnis.

Sekarang ini globalisasi telah memberikan pengaruh besar kepada industri telekomunikasi, elektronik/komputer, keuangan, farmasi, kimia, transportasi. dan otomotif.

Jika masih berada di salah satu industri ini, maka pasti mengetahuinya. Jika tidak, bersiap-siaplah. Hanya soal waktu saja sebelum kita semua, juga akan menjadi global.

Saat ini tentu memiliki persepsi yang beragam mengenai apa persisnya yang dimaksud dengan menjadi global. Bagi kebanyakan orang itu berarti melakukan bisnis di luar negeri. Walaupun menjalankan bisnis di luar negeri merupakan langkah pertama, namun itu belumlah lengkap.

Guna menjadi global, sebuah perusahaan tidak hanya harus menjalankan bisnis secara internasional tetapi juga harus mempunyai budaya perusahaan dan sistem nilai yang memungkinkannya menggerakkan sumber dayanya kemana pun di dunia untuk memperoleh keunggulan bersaing terbesar. Hal ini jauh lebih dari sekadar mengekspor, perjanjian lisensi, dan perjanjian distribusi, atau pemanfaatan sumber luar negeri untuk teknologi, modal, fasilitas, tenaga kerja, dan material.

Guna menjadi global diperlukan pola pikir dan keterampilan yang luas jauh melampaul jangkauan kebanyakan perusahaan sekarang ini.

Terdapat setidaknya lima bentuk perusahaan yang berbeda yang beroperasi di lingkungan global sekarang ini. Bagi beberapa perusahaan, bentuk mereka sekarang ini merupakan suatu tahap dalam perkembangan menuju bentuk bentuk yang lebih kompleks.

Bagi yang lain, bentuk mereka sekarang adalah yang paling tepat bagi industri mereka atau sifat bisnis mereka AT&T, GE, dan ADB, mempunyai kelima bentuk organisasi dalam satu perusahaan. Industri yang berbeda, bisnis yang berbeda, dan kondisi persaingan yang berbeda menuntut pendekatan yang berbeda dalam menjalankan bisnis secara internasional.

Karena itu pertanyaan yang tepat bukanlah Haruskah kita menjadi global? melainkan Aspek mana dalam perasahaan kita yang paling banyak dapat mengambil manfaat dari globalisasi, maka akan ditemukan lebih banyak mengenai hal ini Lihat buku Rusdin (2002). Bisnis Internasional, yang diterbitkan oleh Alfabeta di Bandung.

Mengelola Daya Saing Global ?

Secara singkat, kita meninjau macam-macam organisasi yang paling sering dirujuk ketika orang membicarakan globalisasi sekarang ini.




sumber :